Loading...

Cari Blog Ini

Memuat...

Laman

Rabu, 14 Juli 2010



Wayang merupakan bahasa simbol kehidupan yang bersifat rohaniah

daripada jasmaniah. Jika orang melihat pagelaran wayang, yang dilihat bukan

wayangnya, melainkan masalah yang tersirat dalam lakon wayang itu. Wayang

purwa dikalangan masyarakat awam lebih dikenal dengan nama wayang kulit,

bahkan ada juga yang menamakan wayang kulit purwa. Karena wayang kulit itu

berjumlah banyak sedangkan wayang purwa adalah jenis pertunjukan wayang

kulit dengan lakon-lakon semula bersumber pada cerita-cerita kepahlawanan india

yaitu Ramayana dan Mahabarata (Guritno, 1988).

Dalam bahasa krama (halus) wayang purwa dinamakan ringgit purwa atau

ringgit wacucal. Hazeu (1979) menyebut bahwa wayang adalah identik dengan

kata ringgit. Sehingga wayang atau ringgit sangat berkaitan dengan susunan

rumah tradisional Jawa yang biasanya terdiri atas bagian-bagian ruangan; yaitu

emper, pedhopo, omah buri, gandhok, sethong, dan bagian yang disebut

pringgitan (tempat yang biasanya untuk menggelar atau mementaskan

pertunjukan wayang), yaitu bagian yang menghubungkan antara penhopo ’rumah

bagian depan’ dengan omah buri ’bagian belakang’.

Hazeu (1979) berpendapat bahwa asal-muasal wayang berasal dari Jawa

asli, bukanlah meniru atau mencontoh dari Hindu, denagn lima argumen, yaitu :

(a) nama-nama peralatan wayang semua adalah kata asli jawa, (b) wayang itu

telah ada semenjak sebelun bangsa Hindu datang ke Jawa, (c) struktur lakon

wayang digubah menurut model yang amat tua, (d) cara bercerita dalang juga

mengikuti tradisi yang amat tua, dan (e) desain teknis, gaya susunan lakonan

berkhas Jawa. Pischel (1982) membuktikan bahwa asal-muasal wayang yang dari

india itu berasal dari kata rupopajivase (terdapat pada Mahabarata )dan kata

rupparupakam (terdapat dalam Therigatha ). Namun pendapat ini lemah, karena

kata-kata itu disebut dalam kitab-kitab hanyalah sambil lalu.Krom, berpendapat

bahwa wayang adalah Kreasi Hindu Jawa, suatu sinkretisme; alasannya: (1)

wayang hanya terdapat di daerah Jawa Bali, yaitu daerah yang paling kuat banyak

mengalami pengaruh dari kebudayaan Hindu; (2) India lama telah mengenal teater

bayang; (3) cerita-cerita wayang menggunakan atau berasal wiracarita India; (4)

adanya hubungan wayang dan penyembahan arwah nenek moyang (Hamzah

Amir, 1991)

Brendes (1991) juga perpendapat bahwa wayang adalah asli Jawa aeperti

juga gamelan, batik, dan sebagainya. Wayang sangat erat hubungannya dengan

kehidupan sosial, kultural dalam religius bangsa Jawa. Misalnya tokoh Semar,

Gareng, Petruk dan Bagong berasal dari Jawa yakni para nenek moyang yang di

pertuhankan.

Dalam pertunjukan wayang purwa dewasa ini adegan yang amat dinantinanti

dan digemari para penonton, utamanya para genarasi muda adalah adegan

limbukan (dua abdi wanita) dan gara-gara (empat abdi pria). Dalam adegan garagara

tersebut muncullah keempat tokoh punokawan, dan tokoh punokawan itu

melambangkan rakyat atau kawulo alit (Sri Mulyono, 1978)

Dalam dunia pewayangan istilah sedulur papat lima pancer merupakan

simbolisasi ksatria dan empat abdinya. Sedulur papat adalah punokawan, lima

pancer adalah ksatria (Yudistira, Arjuna, Bima, Sadewa, Nakulo)

Admin (2007) Dalam hal ini, yang dinamakan punokawan yakni Semar

sebagai pamomong keturunan Saptaarga ditemani oleh tiga anaknya, yaitu;

Gareng, Petruk dan Bagong sebagai pengiring para ksatria Pandawa. Kehadiran

mereka seringkali hanya dianggap sebagai tambahan yang kurang diperhitungkan

dan untuk menghadirkan lelucon saja, padahal kerap menentukan arah perubahan.

Ke lima tokoh ini menduduki posisi penting dalam kisah pewayangan. Kisah

Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Sapta arga atau pertapaan lainnya.

Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan,

mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan

melakukan tapa ngrame. Dalam perjalanannya, Punokawan harus menemani

perjalanan sang Ksatria dalam memasuki “hutan”, memasuki sebuah medan

medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar,

banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika

lengah dapat mengancam jiwanya, sehingga berhasil keluar “hutan” dengan

selamat, sampai sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil

menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.

Kata punokawan menurut pedalangan berasal dari kata pana, artinya

cerdik, jelas, dan cermat dalam pengamatan; sedang kata kawan berarti teman atau

sahabat, jadi punokawan berarti teman atau sahabat (pamong) yang sangat cerdik,

dapt dipercaya serta mempunyai pandangan yang luas serta pengamatan yang

tajam dan cermat; atau dalam bahasa jawa dikenal dengan istilah tanggap ing

sasmita lan limpad pasanging grahita ’peka dan peduli terhadap masalah

(www.wayang-indonesia.com).

Pandam Guritno (1976) menyatakan bahwa punokawan dalam

pewayangan merupakan pengejawantahan sifat, watak, manusia dengan

lambangnya masing-msing Yaitu: Semar lambang Karsa (kehendak atau niat),

Gareng lambang cipta (pikiran, rasio, nalar), Petruk lambang rasa (perasaan),

Bagong lambang karya (usaha, perilaku, perbuatan). Punokawan yang berjumlah

empat itu melambangkan cipta-rasa-karsa dan karya manusia. Jadi punokawan (

pana ’tahu’ terhadap empat tersebut diatas, dan kawan ’teman’ manusia hidup di

dunia. Empat hal tersebut bila diurutkan berdasarkan kepentingannya adalah

karsa, rasa, cipta dan karya)

Tokoh punokawan yang selalu mengikuti para satria yang berbudi luhur itu

ada 4 yaitu: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun, dari keempat tokoh

tersebut yang paling menjadi panotan adalah semar. Ki Lurah Semar sering di

sebut pamong agung, karena merupakan pengayom dan pelindung orang lain,

selalu menegakkan kebenaran dan keadilan. Karena tugas Semar selain bertindak

sebagai penasihat dalam kesukaran atupun bertindak agresif dan emosional bagi

para satria, juga sebagai penghibur sewaktu para satria yang diasuhnya sedang

dalam kesusahan. Bahkan semar menjadi penyelamat dan penolong pada waktu

satria dalam bahaya, sehingga sering disebut terang ilahi yang berkewajiban

mewujudkan watak dan perilaku moral yang baik, yaitu watak yang luhur, welas

asih, gotong royong dan mengutamakan kepentingan orang banyak

Ibid (2003) Asal-usul Semar adalah dari telor: kulitnya menjadi Togog

yang menjadi simbol hidup laksana kulit tanpa isi yang mementingkan duniawi

semata oleh karena itu ia mengabdi pada raksasa sebagai simbul angkaramurka,

putihnya menjadi Semar yang menjadi simbol hidup yang penuh kesucian yang

mementingkan isi dari pada kulitnya. Ia selalu memihak kepada kebenaran dan

keadilan dan meluruskan segala bentuk penyelewengan oleh karena itu ia

mengabdi kepada raja dan ksatria utama, kuningnya menjadi Manikmaya yang

mencerminkan kekuasaan karena itu ia dinobatkan menjadi rajanya dewa di

Kahyangan "Junggring Salaka" sebagai Bhatara Guru.

Biarpun Semar itu manusia atau rakyat biasa yang menjadi panakawan

para raja dan ksatria, tapi Semar memiliki kesaktian yang melebihi Bhatara Guru

yang rajanya para Dewa. Semar selalu bisa mengatasi kesaktian dari Bhatara

Guru apabila ingin mengganggu Pendawa Lima yang dalam asuhannya. Banyak

arti simbolik dalam masalah ini yang penulis percayai mungkin mendekati

kebenaran adalah :Bhatara Guru dalam agama Hindu adalah Dewa Shiva yang

dipuja oleh pemeluk agama Hindu, sedangkan Semar adalah tokoh asli Jawa / asli

Indonesia yang mungkin juga dipuja saat sebelum kedatangan agama Hindu.

Secara simbolik bisa diartikan bahwa existensi dari budaya atau nilai-nilai luhur

dari Jawa kuno selalu akan bisa mengatasi dari pengaruh Hindu dan secara

simbolik selalu memenangkan tokoh Semar terhadap tokoh-tokoh dewa Hindu.

Dan hanya dengan menerima tokoh Semar agama Hindu bisa berkembang di

Indonesia. Hal ini sekali lagi dibuktikan dengan apa yang dilakukan oleh Sunan

Kalijaga yang menggunakan senjata Puntadewa jamus "Kalimasada" sebagai

transisi dari Hindu menjadi Islam yaitu dengan menimbulkan kisah hutan

Ketangga yang mengisahkan pertemuannya dengan Puntadewa dan meng-

Islamkan dengan menjabarkan jamus Kalimasada sebagai Kalimat Sahadat.

Dan peng-Islaman masayarakat Jawa tidak melepas sama sekali tokoh yang

sudah ada dari zaman sebelum Hindu dari sekarang seperti Semar yang

perilakunya dijadikan teladan ataupun panutan masyarakat Jawa. Dan disadari

oleh Sunan Kalijaga bahwa Islam hanya akan bisa diterima oleh masyarakat

Jawa apabila kesenangan orang Jawa akan "wayang purwo / kulit" tidak diganggu

yang sebetulnya kesenangan orang Jawa kepada "wayang kulit / purwo"

bukan sekedar sebagai tontonon tapi suatu upaya pelestarian dari petuah atau

etika atau budaya Jawa yang berumur sangat tua yang masih hidup sampai

sekarang oleh karena itu wajah Islam di Jawa atau mungkin juga di Indonesia

mempunyai ciri budaya yang berbeda dengan Islam di Saudi Arabia tanpa

mengurangi makna Islam yang mendasar (www.wayang-indonesia.com).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar